Sejarah Marbling

Mengacu pada buku yang ditulis oleh Kate Brett (2021: 18-36), secara historis terdapat dua jenis tradisi dasar marbling. Jenis marbling yang dimaksud adalah suminagashi teknik marbling yang berasal dari Jepang dan Ebru berasal dari Turki. Namun, Daniel & Cohen (1990) menjelaskan bahwa kemungkinan teknik marbling telah diterapkan di Cina lebih awal daripada di Jepang. Surucu 92016) menyebutkan nama dari marbling dari Cina adalah Liu-fla-cien dengan menggunakan tinta tradisional bak.

Marbling pertama kali ditemukan di Jepang pada awal tahun 1118 yang dikenal sebagai suminagashi. Teknik ini merupakan marbling dalam bentuk awal dan sederhana menggunakan tinta sumi-e. kertas-kertas dari suminagashi selain menjadi karya seni, juga digunakan sebagai latar belakang kaligrafi serta tindakan keamanan untuk dokumen penting.

Sekitar 1400-an, elit Iran bermigrasi ke wilayah Selatan India, sejak saat itu marbling mulai dikenal. Selanjutnya pada tahun 1600, seniman Persia bermigrasi ke India dan memproduksi kertas marbling yang sangat inovatif dengan menggunakan sisir dan dikerjakan dengan teknik yang rumit. Hasil kertas marbling tersebut dijadikan sebagai pembatas untuk lukisan atau kaligrafi. Teknik ini dengan cepat menyebar dari India ke Iran dan Kekaisaran Ottoman.

Turki merupakan awal marbling sampai di Eropa barat, dibuktikan dari para pelancong Eropa ke Istanbul membeli "Turkish paper" yang disebut "Ebru" yang berwarna-warni pada tahun 1570-an. Pewarna yang digunakan pada Ebru disebut dengan Guas.

Penjelasan mengenai marbling dengan Bahasa Inggris pertama muncul pada tahun 1615. Kemudian pada abad ketujuh belas, pola marbling lebih terkontrol dan air lebih kental. Air dibuat lebih kental menggunakan pengental alami seperti fenugreek atau gum tragacanth dan kemudian banyak yang menggunakannya.

Marbling selanjutnya tidak hanya diaplikasikan pada kertas, namun juga untuk berbagai jenis benda. Zaman keemasan marbling berada di Prancis dan Jerman yang berlangsung pada tahun 1680-an hingga 1730-an. Selanjutnya, marbling sampai ke Inggris pada pertengahan abad ketujuh belas, yang diimpor dari Jerman melalui Belanda. Ditemukan beberapa makalah dengan kertas marbling yang dikenal sebagai "Old Dutch". Surucu (2016) menjelaskan bahwa marbling disempurnakan di Inggris dan Amerika yang menunjukkan konsepsi seni masing-masing negara.

Sekitar tahun 1885, sudah ada pengenalan mengenai mekanisme marbling melalui penerbitan buku serta memperkenalkan bahan dan metode baru berdasarkan penelitian ilmiah. Buku tersebut berjudul "Progress on the Marbling Art" yang ditulis oleh Hafler yang merupakan ahli kimia, serta menemukan bahwa carrageenan dapat menjadi alternatif media dan dapat disimpan selama berbulan-bulan. Selanjutnya diikuti oleh banyaknya seniman yang mengembangkan bentuk dan gaya baru dari marbling.

Awal tahun 1920-an Sandy M. Cockerell menetapkan standar baru dan menerbitkan booklet yaitu "Marbling Paper" (1934), terbitan ini membawa marbling dikenal lebih luas. Saat ini marbling sebagai kerajinan dari kesenian tangan dan tradisional telah mengalami lonjakan popularitas dan lebih dikenal. Di Indonesia tahun 2013 teknik marbling mulai diteliti dan dipublikasikan di internet, sehingga marbling terus berkembang hingga saat ini.


Referensi:





Konsep

Penggunaan pewarna alam pada teknik marbling yang diterapkan pada tekstil merupakan inovasi yang diwujudkan melalui adaptasi material marbling. Pewarna alam yang digunakan pada inovasi ini adalah kunyit, secang, tingi, bunga telang, kulit pohom mahoni, daun suji, ubi ungu, sabut kelapa, dan kulit manggis yang diterapkan pada kain dari serat alam yaitu kanvas dan mori primissima.

Read More

YOU MAY ALSO LIKE


Want to learn more?

If you have any questions about marbling or you need more information feel free to contact us.

fadilahrahmadani.2021@student.uny.ac.id